Join FriendFinder - Find Your Special Someone!

Membaca Ini, Beresiko Impoten  

Jumat, 17 April 2009

Menyadari bahwa lelucon adalah lahan subur buat inovasi dan imajinasi, maka saya relakan diri saya diledek orang. Termasuk profesi sebagai konsultan. Menanggapi lelucon saya terdahulu, di salah satu e-group yang saya ikuti, seorang sahabat pernah mengirimkan lelucon tentang konsultan.
Menurut sebuah cerita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, suatu hari seorang bar tender kedatangan tamu dengan pakaian yang amat trendy. Menyadari bahwa penampilannya demikian trendy, bar tender tadi bertanya tentang profesi sahabat ini. Dengan mantap dan percaya diri sahabat terakhir menyebut kata konsultan. Merasa bahwa profesi ini kedengarannya aneh di telinga, penjaga bar tadi bertanya balik : ‘apa itu konsultan ?’. Dan bukan konsultan namanya kalau jawabannya tidak mantap dan penuh percaya diri : ‘a logical thinker !’. Karena pendidikan terbatas, tentu saja jawaban terakhir membingungkan, dan disertai oleh permintaan agar menjelaskannya lebih lanjut.
Maka mengocehlah konsultan berpakaian trendy ini. ‘Apa Anda punya aquarium ?’, tanya konsultan menyelidik. ‘Tentu’, jawab bar tender tidak kalah mantap. ‘Nah, kalau demikian berarti Anda ini pencinta ikan’, jawab konsultan yang diikuti anggukan kepala bar tender sebagai tanda mengerti. ‘Bila Anda mencintai ikan, apakah Anda juga mencintai anak dan isteri ?’. Kali ini penjaga bar tadi tidak mau kalah percaya diri : ‘ikan saja disayang, apa lagi anak dan isteri di rumah, ia dong !’. Nah kalau Anda punya anak, punya isteri, apa lagi disayangi secara penuh, kesimpulannya Anda itu tidak impoten – demikian konsultan tadi menyimpulkan diskusi dengan topik logical thinker sambil berjalan pergi keluar dari bar.
Melihat bahwa percakapan tadi kelihatan demikian serius, tukang sapu di bar tadi bertanya : ‘siapa tamu tadi ?’. Ketularan percaya diri konsultan, penjaga bar menjawab penuh keyakinan: ‘oh itu tadi hanya konsultan !’. Merasa tidak mengerti ia balik tanya : ‘konsultan, apa itu ?’. Sama dengan fikiran banyak orang yang seperti foto copy, penjaga barpun mengulang apa yang ia dengar terdahulu ‘ a logical thinker’. Dasar tukang sapu, tentu saja dia tidak mengerti jawaban terakhir sambil bertanya kembali. Dan dasar fikiran foto copi telah merasuk ke mana-mana, maka bar tender yang baru diracuni banyak hal oleh konsultan tadi, mengulang cara menjawab konsultan di atas penuh keyakinan. ‘Anda punya aquarium ?’, tanyanya. ‘Tidak’, jawab tukang sapu. Dengan penuh keyakinan penjaga bar menyimpulkan : ‘nah kalau Anda tidak punya aquarium, itu artinya Anda impoten !’.
Terus terang, ketika pertama kali humor ini saya baca di internet, saya tertawa terpingkal-pingkal di rumah. Sampai-sampai puteri dan putera saya datang menghampiri keheranan. Anda bebas memilih, mau tertawa, tersenyum, tersinggung terserah sajalah !.
Yang jelas, berbeda dengan humor lainnya – apa lagi dirty jokes – humor di atas disamping menghibur, juga menghadirkan pemahaman makna yang dalam. Di banyak sekolah, kita memang dididik dan dibentuk sebagai logical thinker. Dan salah satu ciri utama dari berfikir logis adalah runtutan berfikirnya yang lurus dan linier. Alurnya jelas. Runtutan dan keterkaitan antarunsurnya apa lagi. Kejelasan lebih-lebih lagi, ia menjadi ‘dewa’ yang tidak boleh dilanggar. Begitu pelanggaran terhadap kejelasan terjadi, maka tidak luluslah hasilnya.
Manajemen kurang lebih juga diwarnai secara amat dominan oleh cara berfikir logis tadi. Lihat saja jurnal-jurnal berpengaruh dan terkemuka. Di tingkatan yang agak populer, Harvard Business Review bisa disebut sebagai jurnal terkemuka dan berpengaruh. Di tingkatan yang scientific, Administrative Science Quarterly bisa dipakai sebagai contoh. Keduanya amat dan teramat jelas alur berfikir logisnya. Dalam prosentase kasar, ide yang dimuat di kedua jurnal terkemuka ini, lebih dari sembilan puluh persen diisi oleh fikiran-fikiran logis.
Kalau banyak ilmuwan, akademisi dan konsultan yang membangun idenya di atas basis empiris yang kuat, atau fundamen epistemologis yang mantap, saya ingin membangun logika dalam tulisan gendheng ini di atas arsitektur ide sebagaimana lelucon tentang konsultan tadi. Dalam teropong berfikir ala lelucon di atas, pemerasan dan pemerkosaan potensi otak memang telah, sedang dan akan terjadi terus menerus.
Apa lagi potensi yang bernama inovasi dan imajinasi. Ia menjadi keset yang tidak hanya diinjak-injak, melainkan juga dibakar habis. Dengan kejelasan sebagai dewa, keterkaitan yang ketat, di satu sisi bangunan ide memang jelas dan akurat. Akan tetapi, karena tidak semua hal bisa ditangkap dan diwakili melalui kejelasan dan keakuratan, maka sebagian wajah ralitapun kita buang habis.
Lebih dari sekadar membuang sebagian wajah realita, potensi inovasi dan imajinasi yang berada di luar kata-kata, tidak terwakili definisi manapun, sedang dibuat impoten. Bagaimana tidak impoten, kalau realita yang tidak berwajah mau dipetakan oleh arsitektur ide yang kerucut dan menyempit ?
Mungkin saja saya sedang gendheng, kebanyakan orang biasanya membangun arsitektur idenya di atas basis empiris yang kuat, saya malah membangunnya di atas lelucon. Dan ketika seorang sahabat yang suka bercanda bertanya ke saya definisi tentang lelucon, saya hanya menjawab enteng : ‘satu hal yang paling tidak dimengerti oleh mereka yang menyebut dirinya ilmiah’.

AddThis Social Bookmark Button

Design by Amanda @ Blogger Buster