ketika aurel ngidam
Minggu, 05 April 2009
aku benar benar bingung, ketika istriku aurel tiba tiba memintaku untuk memotong tangan wakil rakyat. aku merasa tidak mungkin mampu memenuhi permintaannya itu. ini sebuah hal yang mustahil. namun, dengan alasan ngidam, aurel tetap memintanya. "jabang bayi yang kukandung ini yang punya keinginan itu, mas. jika keinginannya itu tidak kamu penuhi, apa kamu tidak khawatir kalau kelak dia menjadi anak idiot." kata aurel.
"aku tidak peduli. aku tidak sanggup memenuhi permintaanmu yang aneh itu !" tegasku.
"pokoknya kamu harus memenuhi permintaan itu, mas. terserah kamu, tangan siapa yang akan kamu potong. yang penting tangan itu adalah tangan wakil rakyat Indonesia !" bantah aurel.
dadaku terasa sesak. otakku nyut nyutan. aku mengerti watak istriku. jika minta sesuatu pasti harus segera dipenuhi. jika tidak terpenuhi bisa bisa ngambek dan marah marah. lagi pula tidur sendirian disofa itu tidak enak. aku bingung mengapa aurel tiba tiba meminta sesuatu yang sangat sulit untuk dipenuhi ? kalau aku nekat memenuhi permintaan itu, risikonya pasti mendekam di dalam penjara selama bertahun tahun dengan tuduhan melakukan percobaan pembunuhan.
seminggu sudah aku bingung, karena belum juga mampu memenuhi permintaan aurel. sementara itu, sudah beberapa hari aurel ngambek. dan akan terus ngambek sampai permintaannya itu dipenuhi. jika sedang bingung aku tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. suka salah dalam membikin sebuah laporan. kenapa marah bos. dll dll.
"memangnya kamu sedang bingung ya ta ?" tanya temanku
"aku memang sedang bingung. kepalaku bahkan sangat pusing." jawabku dengan lesu.
"memangnya ada masalah apa ? sedang ribut dengan istri ?"
aku mengangguk lesu.
"kamu sih terlalu romantis. terlalu cengeng. tidak seperti aku. kalau aku sedang ribut dengan istri, aku akan segera mencari kompensasi. cari cewek cantik, lalu kubawa ke hotel."
"itu kan kamu..." kataku.
"bagi suami, tak usah bingung bingung mengurus istri. kalau istri ngambek, biarkan saja. dunia ini masih luas. masih banyak cewek cantik di mana mana, yang bisa diajak bercinta." katanya.
"wasyu...otakmu itu memang isinya cewek saja. aku bingung, karena istriku sedang ngidam dan minta sesuatu yang sangat aneh, dan sangat sulit kupenuhi." kataku.
"memangnya istrimu minta apa ?"
"dia meminta aku untuk memotong tangan wakil rakyat."
"hah ? gila, untuk apa tangan itu ?" tanyanya keheranan.
"entahlah namanya juga orang ngidam."
"kalau begitu turuti saja permintaan istrimu itu."
"apa kamu juga ingin aku meringkuk di dalam penjara ?"
"ya itu memang risikonya. apa boleh buat ?!"
"aku tidak mau meringkuk di dalam penjara. kalau aku nekat memotong tangan wakil rakyat, maka aku pasti akan terkenal sebagai orang gila. lagipula bagaimana caranya ?"
"itu gampang. kamu pergi saja kegedung MPR. lalu kamu tunggu ditoilet, trus kamu incar mereka." katanya
"begitu ya..."
kemudian aku pulang. aurel lagi lagi bertanya. "bagaimana, mas ? sudah kamu penuhi permintaanku ?" "besok. ya, besok pasti aku akan pulang dengan membawa potongan tangan wakil rakyat." jawabku dengan suara tegas.
aurel cemberut. "awas ! Kalau besok kamu tidak membawa potongan tangan wakil rakyat itu, kembalikan saja kerumah orang tuaku !"
"apa katamu ?!"
aku mendesah panjang. dadaku terasa sesak. aku tahu, aurel bersikap keras kepala. kalau sudah mengancam akan pulang ke rumah orang tuanya, pasti ancaman itu akan dilaksanakan kalau permintaannya tidak dipenuhi.
"kalau aku sudah pulang, jangan sekali sekali kamu membujukku untuk kembali kerumah ini, mas. ingat itu !" tegas aurel.
"baiklah. besok aku pasti akan memotong tangan wakil rakyat, sesuai dengan permintaanmu. tapi kamu jangan menyesal, kalau aku kemudian tidak akan pernah pulang kerumah ini, karena aku pasti langsung ditahan oleh polisi." tegasku.
siang itu aku kegedung MPR. menunggu ditoilet. lalu salah seorang wakil rakyat datang. tanpa basa basi lagi aku langsung menyekapnya dan memotong tangannya.
"pelakunya pasti antek PKI !"
"siapa pun pelakunya, pantas dikutuk !"
"pasti itu perbuatan teroris !"
"wong asu !"
begitulah mereka bilang. sementara itu, aku sudah tiba di rumah. dan aurel menyambutnya dengan senyuman manis dan kecupan mesra.
"kamu benar benar suami yang baik, mas."
aku tersenyum lega. potongan tangan wakil rakyat yang masih basah merah darah itu aku serahkan ke aurel.
kasus ini menjadi besar. saluran TV dipenuhi berita tentang seorang wakil rakyat yang terpotong tangannya. "menurut saya, kasus pemotongan tangan wakil rakyat itu merupakan tindakan protes dan peringatan keras, agar semua tangan tangan wakil rakyat digunakan untuk hal yang benar. tidak digunakan untuk hal yang salah. merampas hak yang bukan haknya atau bertindak korupsi. tetapi siapa pun pelakunya, memang layak dikutuk, karena kasus itu merupakan kebiadaban yang amat sangat mengerikan di negara ini. bagaimana menurut anda ?" kata pembawa acara.
"saya khawatir, kalau tindakan teror terhadap elite politik sudah menjadi pola baru untuk memprotes perilaku mereka yang memang layak diprotes. saya kira, pemotongan tangan wakil rakyat itu sengaja dilakukan dengan tujuan supaya wakil rakyat lainnya tidak lagi suka mengambil keuntungan dirinya sebagai wakil rakyat. menyalahgunakan kedudukannya sebagai wakil rakyat untuk berbuat yang tidak seharusnya." tutur seorang pengamat politik.
aku tersentak kaget, ketika aurel tiba tiba membangunkan tidurku. ternyata semua ini cuma mimpi. kunyalakan TV, kulihat ada berita tentang janji janji kesepakatan antara kedua kepala negara yang berbicara tentang pemberantasan korupsi, tentang kemajuan tekhnologi, dan segala tetek bengek yang basa basi. pikirku sekali lagi itu juga pasti mimpi. lagipula bagaimana aurel bisa ngidam sedangkan hari ini saja dia datang bulan.
0 komentar: to “ ketika aurel ngidam ”
Posting Komentar